Senin, 08 Januari 2018

Lenyap (?)

     Juni mempermainkan kita, mempertemukan kau dan aku setelah sekian lama abai dengan rindu. Memberi ruang singkat pada kita untuk merekam secuil bahagia.

     Juli, langkahmu bertolak dari kota kecil yang dingin ini, meminjam detik untuk meretas mimpi. Memberiku sekaligus membawa beberapa kenangan yang telah sama-sama kita ikat erat.

     Agustus, langkahku turut memperlebar jarak yang sebelumnya telah kau rentang. Melalui kaca jendela, potongan cerita pertemuan kita perlahan kekal bersama ribuan cemas dan tanya yang kita sulam dalam kepala.

     September, kita berseteru dengan rindu, memuntahkan senjata, melangitkan do'a-do'a, merayu semesta.

     Oktober, berjalan seperti biasa, gemuruh rindu menyapa dalam dada. Kita sama-sama di rangkul dilema, utuh yang kian lama jauh, jatuh, lalu runtuh; asing.

     November, terlanjur dingin. Namun masih terasa jengah untuk menukar ruang-ruang kosong yang tercipta dengan keramaian yang menggoda. Rindu masih menunggu.

     Desember, menyapa. Kita saling memunculkan masing-masing (lagi) di ruang pikiran.
.
.
.
Sejatinya yang lesap ternyata tak benar-benar lenyap.