Senin, 08 Januari 2018

Lenyap (?)

     Juni mempermainkan kita, mempertemukan kau dan aku setelah sekian lama abai dengan rindu. Memberi ruang singkat pada kita untuk merekam secuil bahagia.

     Juli, langkahmu bertolak dari kota kecil yang dingin ini, meminjam detik untuk meretas mimpi. Memberiku sekaligus membawa beberapa kenangan yang telah sama-sama kita ikat erat.

     Agustus, langkahku turut memperlebar jarak yang sebelumnya telah kau rentang. Melalui kaca jendela, potongan cerita pertemuan kita perlahan kekal bersama ribuan cemas dan tanya yang kita sulam dalam kepala.

     September, kita berseteru dengan rindu, memuntahkan senjata, melangitkan do'a-do'a, merayu semesta.

     Oktober, berjalan seperti biasa, gemuruh rindu menyapa dalam dada. Kita sama-sama di rangkul dilema, utuh yang kian lama jauh, jatuh, lalu runtuh; asing.

     November, terlanjur dingin. Namun masih terasa jengah untuk menukar ruang-ruang kosong yang tercipta dengan keramaian yang menggoda. Rindu masih menunggu.

     Desember, menyapa. Kita saling memunculkan masing-masing (lagi) di ruang pikiran.
.
.
.
Sejatinya yang lesap ternyata tak benar-benar lenyap.

Jumat, 24 Maret 2017

Ulang Tahun

Tak perlu kutuliskan banyak kata hari ini
Pada detak detik di tengah malam
Angka nol dua buah
Satu permohonan ku panjatkan dengan segera
Berharap doa yang melangit malam ini mampu menggetarkan singgasana-Nya

‘Selamat mengulang hari kelahiran, aku. Semoga...’

Sedetik sesudahnya kembali kupejamkan mata

.
.
.


Padang Utara, 25 Maret 2017

Sabtu, 27 Agustus 2016

Pulang

  Betapapun kita menginap di sebuah istana atau hotel berbintang tujuh yang mewah dengan pelayanan prima khusus, kita tetap akan mengalami home sick, rindu pulang ke rumah.

  Hakikatnya jiwa merindukan tempat asal. Betapapun rombongan burung mampu terbang jauh, menari, dan berkicau ceria mereguk keindahan dunia, mereka tetap merindukan dahan-dahan pohon tempat mereka beristirahat.

Air Tawar Barat, Padang, 27 Agustus 2016

.
.
.

PS: Edisi rindu, maaf dan terima kasih 👪

Senin, 08 Februari 2016

Pada Suatu Senja

Deretan mobil entah berapa kilometer dari ujung ke ujung.
Aku diam, memandang jendela yang mulai penuh dengan tetesan hujan.
Ku nikmati setiap tetes yang jatuh seperti biasa.
Meski berulang kali kenanganku terlontar, pada kamu.
Meski berulang kali memori berkelebat singgah, tentang kamu.

"Hai, bagaimana disana?"
Deretan huruf tersusun, namun urung disampaikan.
Hampir tak pernah gagal membuat sudut mataku memanas.
Lain waktu yang membuatku tak mampu mengucap apapun.

Ps: Nanti kan ku minta ia mengunjungimu, lalu ceritakan padaku setelahnya. Apa kamu sama tersiksanya denganku?
.
(Kerinci, pada suatu senja)